skip to main |
skip to sidebar
Judul Buku : Edensor
Jenis : Novel
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Cetakan XIII, April 2008
Tebal : 294 + xiv halaman
Terlalu terpaku pada judul buku ini, saya berharap Andrea akan menuliskan banyak kisah yang melekatkan ingatannya selalu pada A Ling kisah-kisah di desa Edensor. Edensor telah menjadi citra yang melekatkannya pada cinta pertama dan sekaligus cinta terindahnya sampai saat novel ini ditulis. Saya kecewa. Tapi sekaligus saya menemukan sebuah journey yang sangat luar biasa dari spirit impian-impian. Tapi itulah yang diinginkan penulis. Andrea tak ingin mengulang apa yang telah dilukiskan tentang Edensor di Seandainya Mereka Bisa Bicara karya Herriot.
Buku ini ibarat folder yang diprotect sehingga merangsang rasa ingin tahu pembaca. Ibarat membuka sebuah situs dengan banyak opsi, dimana beberapa halamannya masih kosong, menunggu sang penulis untuk menggoreskan rinciannya lebih lanjut. Seperti halnya ia dan Arai menghabiskan liburan musim panas dengan melakukan perjalanan sebagai bagpacker sepanjang Eropa dan Afrika, pasti akan terurai kisah yang luar biasa seru. Namun Andrea hanya memaparkan beberapa hal yang dianggap “pantas” menghubungkan buku ketiganya ini dengan konsep tetralogi Laskar Pelangi.
Beberapa keajaiban yang terjadi selama perjalanan di 42 negara telah menunjukkan hal itu dengan memberikan beberapa jawaban dari ungkapan kalimat-kalimat yang mengundang penasaran di buku keduanya, Sang Pemimpi. Kutukan “ikan duyung” dari Capo Lam Nyet Pho yang menjadi kenyataan, bahkan menjadi solusi yang menghantarkannya mewujudkan impian mengeliling Eropa dan Afrika, pertemuannya dengan tokoh mujahidin Baloch Afganistan ¾ Oruzgan Mourad Karzani, peristiwa memalukan sebagai teguran Tuhan kepada Arai akibat keisengan masa kecilnya dulu.
Dalam karyanya ini, Andrea lebih banyak melakukan refleksi kehidupannya yang menggariskan dirinya sebagai individu, sebagai anak bangsa dan sebagai seorang muslim. Seperti yang dituliskan di halaman 207:
Ajaib, secara fisik seharusnya aku telah runtuh. Namun dalam diriku memantik bara yang membesar hari demi hari. Semakin kejam Rusia menindasku, semakin keras inginku menaklukannya. Rusia telah membuatku menemukan intisari diriku. Rusia adalah potongan terbesar mozaik hidupku, yang membuka ruang dalam hatiku untuk memahami arti zenit dan nadir hidupku, seperti pesan Weh dulu.
Di bagian lain (halaman 229) Andrea kembali menegaskan:
Berkelana tidak hanya telah membawaku ke tempat-tempat spektakuler sehingga aku terpaku, tak pula hanya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pada keputusan hitam putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku ini. Pengembaraan ternyata memiliki paru-parunya sendiri, yang dipompa oleh kemampuan menghitung setiap resiko, berpikir tiga langkah ke depan sebelum langkah pertama diambil, integritas yang tak dapat ditawar-tawar dalam keadaan apapun, toleransi dan daya tahan. Semua itu lebih dari cukup untuk mengubah mentalitas manusia yang paling bebal sekalipun. Para sufi dan mahasiswa filsafat barangkali melihatnya sebagai hikmah komunikasi transendental dengan Sang Maha Pencipta melalui pencarian diri sendiri dengan menerobos sekat-sekat agama dan budaya. Aku dan Arai menyebutnya sebagai: akibatnya kalau berani-berani bepergian sebagai pengamen!
Luar biasa bukan???!! Elegan dalam kesederhanaannya!
Bagaimana pula ia menemukan tiga paradoksial selama hidup di negeri orang yang meneguhkan dirinya sebagai individu berbangsa Indonesia. Demikian juga ia mencatat dalam aliran darah tubuhnya,”Tak selembar pun daun jatuh tanpa sepengetahuan Allah.” Selama hidup di rantau orang, yang dipertegas dengan perjalanan musim panasnya, dirinya dan Arai terus berjalan dengan jalan dien al Islam, ditengah lingkungan dan budaya dimana Islam begitu asing, dimana menemukan masjid (sebagaimana pesan ayah mereka) bukanlah hal mudah sebagaimana di kampung halamannya dan Indonesia.
Di akhir, Andrea ingin kita mencicipi satu rasa termanis, dan kemudian ia tak membiarkan kita menikmatinya sampai puas dan habis, di perjalanan akhir studinya, perjalanan akhir di rantau orang, di tengah sebuah segmen kejenuhan penantian, dalam perjalanan dengan menggunakan bus yang meliuk-liuk ke pelosok desa yang tak dikenalnya, sampailah ia pada obat kepiluan cinta pertamanya: “Sure lof, it’s Edensor....”**************
Cimohai, Rabu 16/07/2008 14:50:39 Saya yakin (tentu seyakin Anda pula) akan menemukan rangkaian makna tetralogi ini setelah membaca keempat bukunya. Saya menunggu selesainya saya baca buku kedua dan ketiga, serta launching buku keempat (Maryamah Karpov) yang rencananya akan di”launching” pada bulan September 2008 yang akan datang. Kita tunggu saja bersama! Pasti sangat menarik dan luar biasa!!!!!
Judul Buku : Sang Pemimpi
Jenis : Novel
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Cetakan X, Nopember 2007
Tebal : 288 + ix halaman
”Sebaiknya novel ini juga dibaca anak-anak kita yang beranjak remaja.”Itulah yang terbetik dalam benak saya setelah selesai membaca novel ini. Andrea menceritakan penemuan nilai diri dalam kebersamaannya dengan Arai (sang Simpai Keramat, julukan bagi orang terakhir yang tersisa dari suatu klan). Penuh dengan spirit. Penguasa perasaan. Itulah predikat yang tepat saya citrakan untuk Sang Pemimpi.Dengan membacanya, seakan isi dada sang penulis begitu transparan. Kita bisa melihat sang penulis jauh ke dalam lubuk hatinya. Karena inilah otobiografinya yang dipaparkan dengan begitu populis dan menawan. Hingga kemudian di akhir perjalanan dan bacaan, kita bukan hanya mengagumi bagaimana novel ini dituliskan, isi dan gaya sastra yang mewarnainya, namun kita juga akan mengagumi sebuah perjalanan kehidupan yang begitu nyata.
Perjalanan hidup sang penulis. Potongan mozaik-mozaik kehidupan Andrea Hirata beserta semua mahluk di sekitar kehidupannya yang berperan dalam pembentukan jati dirinya. Seakan tidak ada yang terlewatkan dan dituliskan dengan penuh ketulusan penghargaan.Kita tiba-tiba bisa tersenyum, terpekik, tertawa bahkan tergelak. Namun dengan seketika pula kita bisa terhanyut dalam kesedihan, kedukaan, kemeranaan, kepiluan dan tangis.
Perubahan perasaan (selama membaca) yang sedemikian drastis bukan hanya kita temukan dalam peralihan bab, namun juga akan kita dapati di peralihan alinea. Sungguh fantastis Andrea merangkai kisah berduanya dengan Simpai Keramat dengan menggunakan rangkaian kata. Saya menikmatinya sehati dengan penulisnya yang berkisah juga dengan hati. Luar biasa!
Pengalaman masa remajanya, kenakalannya yang didorong rasa ingin tahu dan solidaritas, prestasi, keterpurukan motivasi yang sempat menghancurkan prestasinya, ukiran impian yang memberi ruh kekuatan dan perjuangan untuk mencanangkan cita-cita, meski menurut akal sehat untuk mencapainya tampak sebagai suatu kemusykilan. Tapi, Andrea bersama saudara sepupunya (Arai) dan sahabatnya yang gagap dan obsesif kompulsif terhadap kuda (Jimbron) tengah berada dalam euforia Sorbonne yang memacu seluruh energi positifnya!Inilah salah satu pelajaran hidup untuk pembaca. Refleksi diri terhadap realita hidupnya saat itu, dituliskannya:
Namun tak pernah kusadari sikap realistis sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan linear dengan perasaan pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.
Di bagian lain, Andrea menuliskan bagaimana efek tegas dari sikap realistis yang pada akhirnya berpengaruh dalam salah satu penggalan kehidupannya:Seyogyanya sikap buruk yang berbuah keburukan: pesimistis menimbulkan sinis, lalu iri, lalu dengki, lalu mungkin fitnah. Dan dengarlah ini, Kawan, akibat nyata sikap buruk itu:
”Tujuh puluh lima!! Sekali lagi 75!! Itulah nomor kursi ayahmu sekarang....”Peringkat 75 setelah peringkat 3........!
Dalam buku ini, cita-citanya makin tergambar jelas. Fondasinya terbangun sejak ia duduk di SD Muhammadiyah, sebagaimana yang dikisahkan dalam Laskar Pelangi. Perjalanannya merantau ke Pulau Jawa dan terdamparnya dirinya dan Arai di Bogor merupakan kelanjutan dari sikap mandiri dan harapannya untuk mewujudkan impiannya.Di akhir kisah, Andrea menggoreskan rasa kagum setelah ia capai kesarjanaannya dengan segala perjuangannya, serta menitipkan rasa ingin tahunya kepada pembaca akan nasibnya kelak di Universite de Paris, Sorbonne setelah ia dan Arai dinyatakan berhasil mendapatkan beasiswa Uni Eropa untuk study of science.**************
Cimohai, Rabu 16/07/2008 12:45:49Saya yakin (tentu seyakin Anda pula) akan menemukan rangkaian makna tetralogi ini setelah membaca keempat bukunya. Saya menunggu selesainya saya baca buku kedua dan ketiga, serta launching buku keempat (Maryamah Karpov) yang rencananya akan di”launching” pada bulan September 2008 yang akan datang. Kita tunggu saja bersama! Pasti sangat menarik dan luar biasa!!!!!Jumat (11-7-2008) pagi, saya excited dengan Zaki, ketika dia menceritakan bahwa gurunya mengapresiasi novel Laskar Pelangi sehingga membuatnya berkeinginan untuk membaca (bacaan semacam ini masih cukup terbatas ketersediaannya di kota seperti Tulungagung). Saya spontan juga mengapresiasi dua novel rangkainnya: Sang Pemimpi dan Edensor. Zaki sangat antusias. Bahkan ketika saya tanya, apakah dia mau membacanya. Dia katakan,”Mau, mi.” Alhamdulillaaaahirabbil ‘aalamiin.
Judul Buku : Laskar Pelangi
Jenis : Novel
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Cetakan XVII, Januari 2008
Tebal : 529 + xiv halaman
Saya merasa sangat terlambat untuk menikmati buku ini. Telah cetakan ketujuhbelas! Dua setengah tahun dari saat novel ini di launch. Sedikit kecewa, tapi saya merasa sangat bersyukur ketika salah seorang teman lama yang bekerja di salah satu penerbit Indonseia meminta saya untuk membaca buku karya Andrea Hirata yang sangat inspiratif ini.
Dan saya menemukan kebenaran kata-kata teman tadi! Saya juga tidak menafikkan setiap komentar para tokoh dan pecinta sastra terhadap buku ini. Sehingga ketika saya ingin membuat catatan kecil disini tentangnya, tiba-tiba saya merasa sangat gagap. Karena semua sudah terwakili dalam komentar-komentar dan analisis yang sangat tajam yang juga disitir dalam kitab Laskar Pelangi ini.
Penulis mengajak kita untuk benar-benar menggunakan seluruh kekuatan indra kita untuk menikmati setiap realita dan peristiwa yang dikisahkannya. Detail diskripsi disatu sisi akan membuat kita kehilangan konteks kisah perjalan para tokoh pelakunya, namun disisi lain, pembaca dikondisikan untuk mengasah ketajaman indra dalam perjalanan imajinasi Andrea.
Penyajian istilah-istilah ilmiah untuk mendiskripsikan makhluk dan peristiwa, memberikan pengaruh moody bagi pembaca. Di suatu kala pembaca diajak untuk menjelajahi dunia sains yang luas dan penuh kejlimetannya. Dan pada kala yang lain kita dihenyakkan pada kekayaan pengetahuan penulis bukan hanya dalam kata, kalimat, gaya sastra, namun juga pada sains, hidup dan kehidupan, kejiwaan dan spiritual.
Namun luar biasa! Ramuan yang sangat istimewa bagi seorang yang tidak terlalu paham dengan sastra sebagai logy. Bukan sekedar hiburan jenaka (karena kita akan menemukan sangat banyak peristiwa dan tutur – sikap nan jenaka), tapi kita disuguhi pengetahuan tentang sejarah, sosiologi, kebijakan, akhlak, bagaimana penting dan konsekuensi memegang prinsip dan nilai hidup dengan sangat natural.
Ikal yang membangun karakter, kepribadian, keyakinannya dan menemukan jati diri dari sebuah perjalanannya sebagai murid sekolah gudang kopra Muhammadiyah di Belitong; bagian dari pecinta dan penikmat pelangi setiap usai hujan ¾ sehingga diberi nama istimewa oleh ibunda guru yang istimewa (Ibu Musimah) sebagai Laskar Pelangi dengan segenap petualangan yang luar biasa, bahkan dengan sebuah gang menyesatkan (Societeit de Limpai) dengan petualangan yang menakjubkan dan diakhiri dengan ”pesan” kebenaran yang lumayan konyol, bahkan perjalanan cinta pertamanya yang membuatnya mengungkapkan kesadaran sebagaimana kita akan dapati di halaman 337:
Jika berfikir positif, ternyata mengenal seseorang secara emosional memberikan akses pada sebuah bank data kepribadian tempat kita dapat belajar banyak hal baru.
Jelas dalam buku ini dia menguatkan pesan, dia bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa tanpa gurunya, teman-teman dan Laskar pelangi-nya, sekolahnya, dan lingkungan yang begitu keras terhadap mereka. Dia bukan tokoh dalam kisah ini. Dia menjadikan semua sebagai pusat cerita, dan Andrea hanya mengambil sebagian kecil darinya untuk dirinya. Tentang sebuah kisah penemuan arti cinta dari sekilas kisah dengan A Ling yang membawa kita melihat romantisme ibarat ”majma’ul bahrain”, romantisme tempo doeloe dan kekinian.
Perubahan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Dipaparkan dengan begitu alamiah, tanpa insiden yang inkoherensial. Mahar yang semula merupakan Jules Verne bagi Laskar Pelangi dan sekolahnya bisa berubah menjadi dedengkotnya Societeit de Limpai, kelompok pecinta dunia misteri setelah sebelumnya nyaris terjebak dalam kesyirikan yang sangat bertentangan dengan aqidah yang diajarkan perguruan Muhammadiyah. Begitu juga nasib sang Einstein Muhammadiyah Belitong, Lintang, yang dituntut menjadi manusia dewasa demi kelangsungan hidup 13 orang anggota keluarganya, disaat ia seharusnya masih mengenyam pendidikan. Flo yang tomboi, pembangkang, terlalu percaya diri, akhirnya mampu berbusana muslimah dengan tetap berkarakter.
Di beberapa bagian, saya laksana diajak berpetualang seperti ketika saya menikmati buku serial Lima Sekawan (dulu saat saya masih kecil), atau menonton serial Bolang (Bocah Petualang yang ditayangkan rutin di salah satu televisi), mememori ulang mencari beberapa kesamaan dengan kehidupan masa kecil saya hingga menemukan keasyikan bersama antara saya dengan penulis melalui medium novel ini, bahkan buku Ghostbumps (dimana saya sering melarang anak-anak saya membacanya.....:D) dan kita tetap akan menemukan benang rasionalitas dalam keyakinan mistis yang menyelimuti sebagian orang dalam kisah ini.
Sebuah penghargaan yang sangat besar terhadap lingkungan, sejarah hidup dan kehidupan, perjuangan semua manusia yang dia kenal (teman, guru, orang tua dan keluarga teman-temannya, bahkan setiap manusia yang berpotensi sebagai ”rival” sebagaimana yang dipaparkan tentang komunitas PN yang tidak pernah lepas dari arogansi dan ekslusivismenya) dan tentunya nilai-nilai yang berkembang diantara mereka.
Saat membacanya, kita juga akan membuka tabir kekayaan pengetahuan penulis bukan hanya tentang ilmu pengetahuan alam, namun juga sosial, psikologi, ilmu agama, spiritualitas, dan tentang cinta (sedikitnya begitu untuk ilmu yang terakhir ini). Tergambar jelas dalam setiap diskripsinya yang jelas, rinci dan rijit. Kita telah dibawa pada kekayaan dan kemiskinan di setiap detail lokasi peristiwa, serta karakter dan perilaku setiap tokoh dan nyaris figuran dalam kisah ini.
Sungguh. Buku ini memaktub pesan betapa berharganya masa kecil seseorang. Meski tidak selalu apa yang menjadi cita-cita masa kecil akan terwujud meski sudah dengan melalui berbagai strategi dan pengorbanan. Namun untuk kesekian kalinya (diluar baaan buku bigrafi para tokoh) kita kembali disadarkan betapa nasib hidup seseorang ditoreh pertama kali melalui kehidupan masa kanak-kanak. Perubahan-perubahan yang drastis bahkan spektakuler ketika seseorang dewasa, juga dimulai dari sini. Jelas ini bisa kita baca dalam bab-bab terakhir yang memberikan pesan sekaligus resume dari perjalanan Ikal dan seluruh soulmatenya dalam Laskar Pelangi.**************
Cimohai, Ahad 06/07/2008 8:34:26Saya yakin (tentu seyakin Anda pula) akan menemukan rangkaian makna tetralogi ini setelah membaca keempat bukunya. Saya menunggu selesainya saya baca buku kedua dan ketiga, serta launching buku keempat (Maryamah Karpov) yang rencananya akan di”launching” pada bulan September 2008 yang akan datang. Kita tunggu saja bersama! Pasti sangat menarik dan luar biasa!!!!!